1.
Latar belakang
Keterampilan berbahasa yang dihasilkan oleh metode membaca, yang terbatas
pada kemampuan membaca teks-teks, ternyata tidak lagi memadai untuk memenuhi
kebutuhan yang berkembang pada tahun empat puluhan. Dalam situasi Perang Dunia
II, Amerika Serikat memerlukan personalia yang lancar berbahasa asing untuk
ditempatkan di beberapa negara, baik sebagai penerjemah dokumen-dokumen maupun
pekerjaan lain yang memerlukan komunikasi langsung dengan penduduk setempat.
Untuk itu, Departemen Pertahanan Negara Amerika Serikat membentuk satu badan
yang dinamai Army Specialized Training Program (ASTP) dengan melibatkan
55 universitas di AS. Program yang dimulai pada tahun 1943 ini bertujuan agar
peserta program dapat mencapai keterampilan berbicara dalam beberapa bahasa asing,
dengan pendekatan dan metode yang baru sama sekali.
Pengajaran bahasa asing model ASTP yang bersifat intensif dan
berbasis penyajian lisan ini dianggap berhasil. Oleh karena itu, sejumlah ahli
linguistik terkemuka yakin bahwa model ASTP ini layak diterapkan secara umum di
luar program ketentaraan. Model ASTP inilah yang merupakan cikal bakal dari
metode audiolingual, setelah dikembangkan dan diberi landasan metodologi oleh
berbagai universitas di Amerika, terutama oleh Universitas Michigan. Pada waktu
yang sama, di Inggris juga dikembangkan oral-approach yang mirip sekali
dengan metode yang sedang berkembang di Amerika.
2.
Asumsi
Metode audiolingual didasarkan atas beberapa asumsi, antara lain
bahwa bahasa itu pertama-tama adalah ujaran. Oleh karena itu pengajaran bahasa
harus dimulai dengan memperdengarkan bunyi-bunyi bahasa dalam bentuk kata ata
kalimat kemudian mengucapkannya, sebelum pelajaran membaca dan menulis.
Asumsi lain dari metode ini ialah bahwa bahasa adalah kebiasaan.
Suatu perilaku akan menjadi kebiasaan apabila diulang berkali-kali. Oleh karena
itu, pengajaran bahasa harus dilakukan dengan teknik pengulangan atau repetisi.
Ajarkan bahasa dan jangan mengajarkan tentang bahasa, juga
merupakan prinsip dasar dalam metode ini. Oleh karena itu pelajaran bahasa
harus diisi dengan kegiatan berbahasa bukan kegiatan mempelajari kaidah-kaidah
bahasa.
Metode ini juga didasarkan atas asumsi bahwa bahasa-bahsa di dunia
ini berbeda satu sama lain. oleh karena itu, pemilihan bahan ajar harus
berbasis hasil analisis kontrastif, antara bahasa ibu pelajar dan bahasa target
yang sedang dipelajarinya.
3.
Karakteristik
Karakteristik metode audiolingual ini antara lain adalah sebagai
berikut:
1.
Tujuan
pengajarannya adalah penguasaan empat keterampilan berbahasa secara seimbang.
2.
Urutan
penyajiannya adalah menyimak dan berbicara baru kemudian membaca dan menulis.
3.
Model
kalimat bahasa asing diberikan dalam bentuk percakapan untuk dihafalkan.
4.
Penguasaan
pola kalimat dilakukan dengan latihan-latihan pola (pattern-practice).
Latihan atau drill mengikuti urutan: stimulus > response > reinforcement.
5.
Pelajaran
sistem bunyi secara sistematis (berstruktur) agar dapat digunakan/dipraktekkan
oleh pelajar, dengan teknik demonstrasi, peniruan, komparasi, kontras, dan
lain-lain.
4.
Kelebihan dan kelemahan
Kelebihan
1.
Para
pelajar memiliki keterampilan pelafalan yang bagus.
2.
Para
pelajar terampil membuat pola-pola kalimat baku yang sudah dilatihkan.
3.
Para
pelajar dapat melakukan komunikasi lisan dengan struktur yang benar karena
latihan menyimak, latihan berbicara, dan dril-dril pola kalimat yang intensif.
4.
Suasana
kelas hidup karena para pelajar tidak tinggal diam, harus terus-menerus
merespon stimulus guru.
Kelemahan
1.
Respon
pelajar cenderung mekanistis, sering tidak mengetahui atau tidak memikirkan
makna ujaran yang diucapkan. Kondisi seperti ini bisa berjalan selama beberapa
bulan, sehingga para pelajar yang sudah dewasa banyak mengalami kebosanan.
2.
Pelajar
bisa berkomunikasi dengan lancar hanya apabila kaliamt yang digunakan telah
dilatihkan sebelumnya di dalam kelas.
3.
Keaktifan
siswa di dalam kelas adalah keaktifan yang semu, karena mereka hanya merespon
rangsangan guru. Semua bentuk latihan, materi pelajaran, sampai model
pertanyaan dan jawaban, ditentukan oleh guru, atau seperti tertulis dalam buku
teks. Tidak ada inisiatif dan kreativitas dari siswa.
4.
Latihan-latihan
pola bersifat manipulatif, tidak kontekstual dan tidak realistis. Pelajar
mengalami kesulitan ketika menerapkannya dalam konteks komunikatif yang
sebenarnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar