Follow Us @soratemplates

Minggu, 13 Desember 2015

METODE AUDIOLINGUAL

Desember 13, 2015 0 Comments
A.  METODE AUDIOLINGUAL (الطريقة السمعية الشفوية) (menurut Ahmad Fuad Effendy, 2012:58):

1.      Latar belakang
Keterampilan berbahasa yang dihasilkan oleh metode membaca, yang terbatas pada kemampuan membaca teks-teks, ternyata tidak lagi memadai untuk memenuhi kebutuhan yang berkembang pada tahun empat puluhan. Dalam situasi Perang Dunia II, Amerika Serikat memerlukan personalia yang lancar berbahasa asing untuk ditempatkan di beberapa negara, baik sebagai penerjemah dokumen-dokumen maupun pekerjaan lain yang memerlukan komunikasi langsung dengan penduduk setempat. Untuk itu, Departemen Pertahanan Negara Amerika Serikat membentuk satu badan yang dinamai Army Specialized Training Program (ASTP) dengan melibatkan 55 universitas di AS. Program yang dimulai pada tahun 1943 ini bertujuan agar peserta program dapat mencapai keterampilan berbicara dalam beberapa bahasa asing, dengan pendekatan dan metode yang baru sama sekali.
Pengajaran bahasa asing model ASTP yang bersifat intensif dan berbasis penyajian lisan ini dianggap berhasil. Oleh karena itu, sejumlah ahli linguistik terkemuka yakin bahwa model ASTP ini layak diterapkan secara umum di luar program ketentaraan. Model ASTP inilah yang merupakan cikal bakal dari metode audiolingual, setelah dikembangkan dan diberi landasan metodologi oleh berbagai universitas di Amerika, terutama oleh Universitas Michigan. Pada waktu yang sama, di Inggris juga dikembangkan oral-approach yang mirip sekali dengan metode yang sedang berkembang di Amerika.

2.      Asumsi
Metode audiolingual didasarkan atas beberapa asumsi, antara lain bahwa bahasa itu pertama-tama adalah ujaran. Oleh karena itu pengajaran bahasa harus dimulai dengan memperdengarkan bunyi-bunyi bahasa dalam bentuk kata ata kalimat kemudian mengucapkannya, sebelum pelajaran membaca dan menulis.
Asumsi lain dari metode ini ialah bahwa bahasa adalah kebiasaan. Suatu perilaku akan menjadi kebiasaan apabila diulang berkali-kali. Oleh karena itu, pengajaran bahasa harus dilakukan dengan teknik pengulangan atau repetisi.
Ajarkan bahasa dan jangan mengajarkan tentang bahasa, juga merupakan prinsip dasar dalam metode ini. Oleh karena itu pelajaran bahasa harus diisi dengan kegiatan berbahasa bukan kegiatan mempelajari kaidah-kaidah bahasa.
Metode ini juga didasarkan atas asumsi bahwa bahasa-bahsa di dunia ini berbeda satu sama lain. oleh karena itu, pemilihan bahan ajar harus berbasis hasil analisis kontrastif, antara bahasa ibu pelajar dan bahasa target yang sedang dipelajarinya.

3.      Karakteristik
Karakteristik metode audiolingual ini antara lain adalah sebagai berikut:
1.      Tujuan pengajarannya adalah penguasaan empat keterampilan berbahasa secara seimbang.
2.      Urutan penyajiannya adalah menyimak dan berbicara baru kemudian membaca dan menulis.
3.      Model kalimat bahasa asing diberikan dalam bentuk percakapan untuk dihafalkan.
4.      Penguasaan pola kalimat dilakukan dengan latihan-latihan pola (pattern-practice). Latihan atau drill mengikuti urutan: stimulus > response > reinforcement.
5.      Pelajaran sistem bunyi secara sistematis (berstruktur) agar dapat digunakan/dipraktekkan oleh pelajar, dengan teknik demonstrasi, peniruan, komparasi, kontras, dan lain-lain.

4.      Kelebihan dan kelemahan
Kelebihan
1.      Para pelajar memiliki keterampilan pelafalan yang bagus.
2.      Para pelajar terampil membuat pola-pola kalimat baku yang sudah dilatihkan.
3.      Para pelajar dapat melakukan komunikasi lisan dengan struktur yang benar karena latihan menyimak, latihan berbicara, dan dril-dril pola kalimat yang intensif.
4.      Suasana kelas hidup karena para pelajar tidak tinggal diam, harus terus-menerus merespon stimulus guru.

Kelemahan
1.      Respon pelajar cenderung mekanistis, sering tidak mengetahui atau tidak memikirkan makna ujaran yang diucapkan. Kondisi seperti ini bisa berjalan selama beberapa bulan, sehingga para pelajar yang sudah dewasa banyak mengalami kebosanan.
2.      Pelajar bisa berkomunikasi dengan lancar hanya apabila kaliamt yang digunakan telah dilatihkan sebelumnya di dalam kelas.
3.      Keaktifan siswa di dalam kelas adalah keaktifan yang semu, karena mereka hanya merespon rangsangan guru. Semua bentuk latihan, materi pelajaran, sampai model pertanyaan dan jawaban, ditentukan oleh guru, atau seperti tertulis dalam buku teks. Tidak ada inisiatif dan kreativitas dari siswa.
4.      Latihan-latihan pola bersifat manipulatif, tidak kontekstual dan tidak realistis. Pelajar mengalami kesulitan ketika menerapkannya dalam konteks komunikatif yang sebenarnya.