METODE MEMBACA
Tika Nur Diana
November 23, 2015
0 Comments
METODE MEMBACA (طريقة القراءة) (menurut Ahmad Fuad Effendy, 2012:53):
1.
Latar belakang
Ketidakpuasaan
kepada metode langsung yang kurang memberikan perhatian kepada kemahiran
membaca dan menulis, mendorong para guru dan ahli bahasa untuk mencari metode
baru. Pada waktu itu berkembang opini di kalangan para guru bahwa mengajarkan
bahasa asing dengan target penguasaan semua keterampilan berbahasa adalah
sesuatu yang mustahil.
Oleh
karena itu Profesor Coleman dan kawan-kawan dalam sebuah laporan yang ditulis
pada tahun 1929 menyarankan penggunaan suatu metode dengan satu tujuan
pengajaran yang lebih realistis, yang paling diperlukan oleh para pelajar,
yakni keterampilan membaca. Metode yang kemudian dinamai “metode membaca” ini
digunakan di sekolah menengah dan perguruan tinggi di seluruh Amerika dan
negara-negara lain di Eropa. Meskipun disebut “metode membaca”, tidak berarti
bahwa kegiatan belajar mengajar hanya terbatas pada latihan membaca. Latihan
menulis dan berbicara juga diberikan meskipun dengan porsi yang terbatas.
Model
pengajaran metode membaca yang paling terkenal di Eropa dan Timur tengah adalah
model Michael West. Buku pelajaran bahasa Inggris yang dikembangkan oleh West
dipakai secara luas di Mesir. Buku utamanya adalah buku Reading,
kemudian suplemennya terdiri dari (1) buku kerja, berisi daftar pertanyaan
mengenai isi bacaan dan daftar kosakota dan artinya, (2) buku latihan writing,
(3) buku latihan conversation, dan (4) buku extensif reading.
Buku
pelajaran bahasa Arab yang mengadopsi model Michael West ini banyak juga dibuat
dan digunakan secara luas di Mesir dan di negeri-negeri Arab serta Islam
lainnya, termasuk Indonesia.
2.
Asumsi
Metode
ini dikembangkan berdasarkan asumsi bahwa pengajaran bahasa tidak bisa bersifat
multi-tujuan, dan bahwa kemampuan membaca adalah tujuan yang paling realistis
ditinjau dari kebutuhan pembelajar bahasa asing dan kemudahan dalam
pemerolehannya. Kemahiran membaca merupakan bekal bagi pembelajar untuk
mengembangkan pengetahuannya secara mandiri. Dengan demikian, asumsinya
bersifat pragmatis, bukan filosofis teoritis.
3.
Karakteristik
Karakteristik
metode membaca ini antara lain adalah sebagai berikut:
1. Tujuan utamanya adalah kemahiran membaca, yaitu agar pelajar mampu
memahami teks ilmiah untuk keperluan studi mereka.
2. Materi pelajaran berupa buku bacaan utama dengan suplemen daftar
kosakata dan pertanyaan-pertanyaan isi bacaan, buku bacaan penunjung untuk
perluasan (extensif reading/قراءة موسعة), buku latihan mengarang terbimbing dan percakapan.
3. Basis kegiatan pembelajaran adalah memahami isi bacaan, didahului
oleh pengenalan kosakata pokok dan maknanya, kemudian mendiskusikan isi bacaan
dengan bantuan guru. Pemahaman isi bacaan melalui proses analisis, tidak dengan
penerjemahan isi bacaan melalui proses analisis, tidak dengan penerjemahan
harfiah, meskipun bahasa ibu boleh digunakan dalam mendiskusikan isi teks.
4. Membaca diam (silent reading/قراءة
صامتة) lebih diutamakan daripada
membaca keras (loud-reading/ قراءة
جهرية).
5. Kaidah bahasa diterangkan seperlunya tidak boleh berkepanjangan.
4.
Kelebihan dan kelemahan
Kelebihan
1. Pelajar terlatih memahami bacaan dengan analisis, tidak melalui
penerjamahan.
2. Pelajar menguasai kosakata dengan baik.
3. Pelajar memahami penggunaan tata bahasa.
Kelemahan
1.
Pelajar
lemah dalam keterampilan membaca nyaring (pelafalan, intonasi dsb).
2.
Pelajar
tidak terampil dalam menyimak dan berbiacara, karena yang menjadi perhatian
utama adalah keterampilan membaca.
3.
Pelajar
kurang terampil dalam mengarang bebas.
4.
Karena
kosakata yang dikenalkan hanya yang berkaitan dengan bacaan, maka pelajar lemah
dalam memahami teks yang berbeda.
