Follow Us @soratemplates

Senin, 23 November 2015

METODE GRAMATIKA-TERJEMAH



      METODE GRAMATIKA-TERJEMAH (طريقة القواعد والترجمة) (menurut Ahmad Fuad Effendy, 2012:41):
 
1.      Latar belakang
Cikal bakal metode ini dapat dirujuk ke abad kebangkitan Eropa (abad 15) ketika banyak sekolah dan universitas di Eropa pada waktu itu mengharuskan pelajar/mahasiswanya belajar bahasa latin karena dianggap mempunyai “nilai pendidikan yang tinggi” guna mempelajari teks-teks klasik.(Al-Araby, 1981). Metode ini merupakan pencerminan yang tepat dari cara bahasa-bahasa Yunani Kuno dan latin diajarkan selama berabad-abad (Subyakto, 1993). Akan tetapi penamaan metode klasik ini dengan “Grammar Translation Method” baru dikenal pada abad 19, ketika metode ini digunakan secara luas di benua Eropa (Brown, 2001). Metode ini juga banyak digunakan untuk pengajaran bahasa Arab, baik di negeri-negeri Arab maupun di negeri-negeri Islam lainnya termasuk Indonesia, sampai akhir abad ke-19. Di negeri kita Indonesia, metode ini masih digunakan sampai hari ini di pondok-pondok pesantren yang lazim disebut dengan pesantren salafi.

2.      Asumsi
Metode ini berdasarkan asumsi bahwa ada satu “logika semesta” yang merupakan dasar semua bahasa di dunia ini, dan bahwa tata bahasa merupakan bagian dari filsafat dan logika. Belajar bahasa dengan demikian dapat memperkuat kemampuan berpikir logis, memecahkan masalah, dan menghafal.
Asumsi berikutnya ialah bahwa bahasa pada dasarnya merupakan sistem tata bahasa, oleh karena itu menguasai tata bahasa menjadi syarat untuk dapat berbahasa. Metode ini juga berasumsi bahwa bahasa ibu atau bahasa pertama merupakan sistem yang menjadi referensi untuk memperoleh kemahiran berbahasa kedua.

3.      Karakteristik
Karakteristik Metode Gramatika-Terjemah (MGT) ini adalah sebagai berikut:
1.      Tujuan mempelajari bahasa asing adalah agar mampu membaca karya sastra dalam bahasa target (BT), atau kitab keagamaan dalam kasus belajar bahasa Arab di Indonesia.
2.      Materi pelajaran terdiri atas: buku nahwu, kamus atau daftar kata, dan teks bacaan.
3.      Tata bahasa disajikan secara deduktif, yakni dimulai dengan penyajian kaidah diikuti dengan contoh-contoh, dan dijelaskan secara rinci dan panjang lebar.
4.      Kosakota, kalimat, dan struktur diberikan berdasarkan keperluan untuk menjelaskan kaidah nahwu.
5.      Teks bacaan berupa karya sastra klasik atau kitab keagamaan lama.
6.      Basis pembelajaran adalah penghafalan kaidah tata bahasa dan kosakata, kemudian penerjemahan harfiah dari bahasa target ke bahasa pelajar dan sebaliknya.
7.      Bahasa ibu pelajar digunakan sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan belajar-mengajar.
8.      Peran guru aktif sebagai penyaji materi. Peran pelajar pasif sebagai penerima materi.

4.      Kelebihan dan kelemahan
Kelebihan
1.      Pelajar menguasai dalam arti hafal di luar kepala kaidah-kaidah tata bahasa dari bahasa yang dipelajari atau bahasa target (BT).
2.      Pelajar memahami isi detail bahan bacaan yang dipelajarinya dan mampu menerjemahkannya secara harfiah.
3.      Pelajar memahami karakteristik BT dan banyak hal lainnya yang bersifat teoritis, kemudian dapat membandingkannya dengan karakteristik bahasa ibu.
4.      Metode ini memperkuat kemampuan pembelajar dalam mengingat dan menghafal.
5.      Bisa dilaksanakan dalam kelas besar dan tidak menuntut kemampuan guru yang ideal, dalam arti memiliki keterampilan berbahasa target.
Kelemahan
1.      Metode ini lebih banyak mengajarkan “tentang bahasa” bukan mengajarkan berbahasa”.
2.      Metode ini hanya mengajarkan kemahiran membaca, sedikit kemahiran menulis, sedangkan kemahiran menyimak, dan berbicara diabaikan.
3.      Terjemahan harfiah sering mengacaukan makna kalimat dalam konteks yang luas, dan hasil terjemahannya tidak lazim menurut citarasa bahasa ibu siswa.
4.      Pelajar hanya mempelajari satu ragam bahasa, yaitu ragam bahasa tulis klasik, sedangkan bahasa tulis modern dan bahasa percakapan tidak diperoleh.
5.      Kosakata, struktur, dan ungkapan yang dipelajari oleh siswa mungkin sudah tidak dipakai lagi atau dipakai dalam arti yang berbeda dalam bahasa modern.
6.      Karena otak siswa dipenuhi oleh masalah-masalah tata bahasa maka tidak tersisa lagi tempat untuk ekspresi dan kreasi berbahasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar