A. METODE AUDIOLINGUAL (الطريقة
السمعية الشفوية) (menurut Ahmad
Fuad Effendy, 2012:58):
1.Latar belakang
Keterampilan berbahasa yang dihasilkan oleh metode membaca, yang terbatas
pada kemampuan membaca teks-teks, ternyata tidak lagi memadai untuk memenuhi
kebutuhan yang berkembang pada tahun empat puluhan. Dalam situasi Perang Dunia
II, Amerika Serikat memerlukan personalia yang lancar berbahasa asing untuk
ditempatkan di beberapa negara, baik sebagai penerjemah dokumen-dokumen maupun
pekerjaan lain yang memerlukan komunikasi langsung dengan penduduk setempat.
Untuk itu, Departemen Pertahanan Negara Amerika Serikat membentuk satu badan
yang dinamai Army Specialized Training Program (ASTP) dengan melibatkan
55 universitas di AS. Program yang dimulai pada tahun 1943 ini bertujuan agar
peserta program dapat mencapai keterampilan berbicara dalam beberapa bahasa asing,
dengan pendekatan dan metode yang baru sama sekali.
Pengajaran bahasa asing model ASTP yang bersifat intensif dan
berbasis penyajian lisan ini dianggap berhasil. Oleh karena itu, sejumlah ahli
linguistik terkemuka yakin bahwa model ASTP ini layak diterapkan secara umum di
luar program ketentaraan. Model ASTP inilah yang merupakan cikal bakal dari
metode audiolingual, setelah dikembangkan dan diberi landasan metodologi oleh
berbagai universitas di Amerika, terutama oleh Universitas Michigan. Pada waktu
yang sama, di Inggris juga dikembangkan oral-approach yang mirip sekali
dengan metode yang sedang berkembang di Amerika.
2.Asumsi
Metode audiolingual didasarkan atas beberapa asumsi, antara lain
bahwa bahasa itu pertama-tama adalah ujaran. Oleh karena itu pengajaran bahasa
harus dimulai dengan memperdengarkan bunyi-bunyi bahasa dalam bentuk kata ata
kalimat kemudian mengucapkannya, sebelum pelajaran membaca dan menulis.
Asumsi lain dari metode ini ialah bahwa bahasa adalah kebiasaan.
Suatu perilaku akan menjadi kebiasaan apabila diulang berkali-kali. Oleh karena
itu, pengajaran bahasa harus dilakukan dengan teknik pengulangan atau repetisi.
Ajarkan bahasa dan jangan mengajarkan tentang bahasa, juga
merupakan prinsip dasar dalam metode ini. Oleh karena itu pelajaran bahasa
harus diisi dengan kegiatan berbahasa bukan kegiatan mempelajari kaidah-kaidah
bahasa.
Metode ini juga didasarkan atas asumsi bahwa bahasa-bahsa di dunia
ini berbeda satu sama lain. oleh karena itu, pemilihan bahan ajar harus
berbasis hasil analisis kontrastif, antara bahasa ibu pelajar dan bahasa target
yang sedang dipelajarinya.
3.Karakteristik
Karakteristik metode audiolingual ini antara lain adalah sebagai
berikut:
1.Tujuan
pengajarannya adalah penguasaan empat keterampilan berbahasa secara seimbang.
2.Urutan
penyajiannya adalah menyimak dan berbicara baru kemudian membaca dan menulis.
3.Model
kalimat bahasa asing diberikan dalam bentuk percakapan untuk dihafalkan.
4.Penguasaan
pola kalimat dilakukan dengan latihan-latihan pola (pattern-practice).
Latihan atau drill mengikuti urutan: stimulus > response > reinforcement.
5.Pelajaran
sistem bunyi secara sistematis (berstruktur) agar dapat digunakan/dipraktekkan
oleh pelajar, dengan teknik demonstrasi, peniruan, komparasi, kontras, dan
lain-lain.
4.Kelebihan dan kelemahan
Kelebihan
1.Para
pelajar memiliki keterampilan pelafalan yang bagus.
2.Para
pelajar terampil membuat pola-pola kalimat baku yang sudah dilatihkan.
3.Para
pelajar dapat melakukan komunikasi lisan dengan struktur yang benar karena
latihan menyimak, latihan berbicara, dan dril-dril pola kalimat yang intensif.
4.Suasana
kelas hidup karena para pelajar tidak tinggal diam, harus terus-menerus
merespon stimulus guru.
Kelemahan
1.Respon
pelajar cenderung mekanistis, sering tidak mengetahui atau tidak memikirkan
makna ujaran yang diucapkan. Kondisi seperti ini bisa berjalan selama beberapa
bulan, sehingga para pelajar yang sudah dewasa banyak mengalami kebosanan.
2.Pelajar
bisa berkomunikasi dengan lancar hanya apabila kaliamt yang digunakan telah
dilatihkan sebelumnya di dalam kelas.
3.Keaktifan
siswa di dalam kelas adalah keaktifan yang semu, karena mereka hanya merespon
rangsangan guru. Semua bentuk latihan, materi pelajaran, sampai model
pertanyaan dan jawaban, ditentukan oleh guru, atau seperti tertulis dalam buku
teks. Tidak ada inisiatif dan kreativitas dari siswa.
4.Latihan-latihan
pola bersifat manipulatif, tidak kontekstual dan tidak realistis. Pelajar
mengalami kesulitan ketika menerapkannya dalam konteks komunikatif yang
sebenarnya.
METODE MEMBACA (طريقة القراءة) (menurut Ahmad Fuad Effendy, 2012:53):
1.Latar belakang
Ketidakpuasaan
kepada metode langsung yang kurang memberikan perhatian kepada kemahiran
membaca dan menulis, mendorong para guru dan ahli bahasa untuk mencari metode
baru. Pada waktu itu berkembang opini di kalangan para guru bahwa mengajarkan
bahasa asing dengan target penguasaan semua keterampilan berbahasa adalah
sesuatu yang mustahil.
Oleh
karena itu Profesor Coleman dan kawan-kawan dalam sebuah laporan yang ditulis
pada tahun 1929 menyarankan penggunaan suatu metode dengan satu tujuan
pengajaran yang lebih realistis, yang paling diperlukan oleh para pelajar,
yakni keterampilan membaca. Metode yang kemudian dinamai “metode membaca” ini
digunakan di sekolah menengah dan perguruan tinggi di seluruh Amerika dan
negara-negara lain di Eropa. Meskipun disebut “metode membaca”, tidak berarti
bahwa kegiatan belajar mengajar hanya terbatas pada latihan membaca. Latihan
menulis dan berbicara juga diberikan meskipun dengan porsi yang terbatas.
Model
pengajaran metode membaca yang paling terkenal di Eropa dan Timur tengah adalah
model Michael West. Buku pelajaran bahasa Inggris yang dikembangkan oleh West
dipakai secara luas di Mesir. Buku utamanya adalah buku Reading,
kemudian suplemennya terdiri dari (1) buku kerja, berisi daftar pertanyaan
mengenai isi bacaan dan daftar kosakota dan artinya, (2) buku latihan writing,
(3) buku latihan conversation, dan (4) buku extensif reading.
Buku
pelajaran bahasa Arab yang mengadopsi model Michael West ini banyak juga dibuat
dan digunakan secara luas di Mesir dan di negeri-negeri Arab serta Islam
lainnya, termasuk Indonesia.
2.Asumsi
Metode
ini dikembangkan berdasarkan asumsi bahwa pengajaran bahasa tidak bisa bersifat
multi-tujuan, dan bahwa kemampuan membaca adalah tujuan yang paling realistis
ditinjau dari kebutuhan pembelajar bahasa asing dan kemudahan dalam
pemerolehannya. Kemahiran membaca merupakan bekal bagi pembelajar untuk
mengembangkan pengetahuannya secara mandiri. Dengan demikian, asumsinya
bersifat pragmatis, bukan filosofis teoritis.
3.Karakteristik
Karakteristik
metode membaca ini antara lain adalah sebagai berikut:
1.Tujuan utamanya adalah kemahiran membaca, yaitu agar pelajar mampu
memahami teks ilmiah untuk keperluan studi mereka.
2.Materi pelajaran berupa buku bacaan utama dengan suplemen daftar
kosakata dan pertanyaan-pertanyaan isi bacaan, buku bacaan penunjung untuk
perluasan (extensif reading/قراءةموسعة), buku latihan mengarang terbimbing dan percakapan.
3.Basis kegiatan pembelajaran adalah memahami isi bacaan, didahului
oleh pengenalan kosakata pokok dan maknanya, kemudian mendiskusikan isi bacaan
dengan bantuan guru. Pemahaman isi bacaan melalui proses analisis, tidak dengan
penerjemahan isi bacaan melalui proses analisis, tidak dengan penerjemahan
harfiah, meskipun bahasa ibu boleh digunakan dalam mendiskusikan isi teks.
4.Membaca diam (silent reading/قراءة
صامتة)lebih diutamakan daripada
membaca keras (loud-reading/ قراءة
جهرية).
5.Kaidah bahasa diterangkan seperlunya tidak boleh berkepanjangan.
4.Kelebihan dan kelemahan
Kelebihan
1.Pelajar terlatih memahami bacaan dengan analisis, tidak melalui
penerjamahan.
2.Pelajar menguasai kosakata dengan baik.
3.Pelajar memahami penggunaan tata bahasa.
Kelemahan
1.Pelajar
lemah dalam keterampilan membaca nyaring (pelafalan, intonasi dsb).
2.Pelajar
tidak terampil dalam menyimak dan berbiacara, karena yang menjadi perhatian
utama adalah keterampilan membaca.
3.Pelajar
kurang terampil dalam mengarang bebas.
4.Karena
kosakata yang dikenalkan hanya yang berkaitan dengan bacaan, maka pelajar lemah
dalam memahami teks yang berbeda.
METODE LANGSUNG(الطريقة المباشرة)(menurut Ahmad Fuad Effendy, 2012:47):
1.Latar belakang
Metode
ini muncul akibat ketidakpuasaan terhadap hasil pengajarn bahasa dengan metode
gramatika terjemah dikaitkan dengan tuntutan kebutuhan nyata di masyakarat.
Menjelang pertengahan abad ke-19, hubungan antar negara di Eropa mulai terbuka
sehingga menyebabkan adanya kebutuhan untuk bisa saling berkomunikasi aktif di
antara mereka. Untuk itu mereka membutuhkan cara baru belajar bahasa kedua,
karena metode yang ada dirasa tidak praktis dan tidak efektif. Maka
pendekatan-pendekatan baru mulai dicetuskan oleh para ahli bahasa di Jerman,
Inggris, Prancis, dan lain-lain, yang membuka jalan bagi lahirnya metode baru
yang disebut Metode Langsung. Di antara para ahli itu adalah Francois Gouin
(1880-1992) seorang guru bahasa latin dari Prancis yang mengembangkan metode
berdasarkan pengamatannya pada pengguanan bahasa ibu oleh anak-anak. Metode ini
memperoleh popularitas pada awal abad ke-20 di Eropa dan Amerika. Pada waktu
yang sama, metode ini juga digunakan untuk pengajaran bahasa Arab, baik di
negeri Arab maupun di negeri-negeri Islam di Asia termasuk Indonesia.
2.Asumsi
Metode
ini dikembangkan atas dasar asumsi bahwa proses belajar bahasa kedua atau
bahasa asing sama dengan belajar bahasa ibu. Juga didasarkan atas asumsi yang
bersumber dari hasil-hasil kajian psikologi asosiatif. Berdasarkan kedua asumsi
tersebut, pengajaran bahasa khususnya pengajaran kata dan kalimat harus
dihubungkan langsung dengan benda, sampel atau gambarnya, atau melalui
peragaan, permainan peran, dan lain sebagainya. Dalam metode ini, pembelajar
harus dibiasakan berpikir dalam bahasa target, oleh karena itu penggunaan
bahasa ibu pembelajar dihindari sama sekali.
3.Karakteristik
Karakteristik
metode langsung ini antara lain adalah sebagai berikut:
1.Tujuan utamanya ialah penguasaan bahasa target (BT) secara lisan
agar pelajar bisa berkomunikasi dalam BT.
2.Materi pelajaran berupa: buku teks yang berisi daftar kosakata dan
penggunaanya dalam kalimat. Kosakata itu umumnya konkrit dan ada di lingkungan
siswa.
3.Kaidah-kaidah bahasa diajarkan secara induktif, yaitu berangkat
dari contoh-contoh kemudian diambil kesimpulan.
4.Kata-kata konkrit diajarkan melalui demonstrasi, peragaan, benda
langsung, dan gambar, sedangkan kata-kata abstrak melalui asosiasi, konteks,
dan definisi.
5.Kemampuan komunikasi lisan dilatihkan secara cepat melalui tanya
jawab yang terencana dalam pola interaksi yang bervariasi.
6.Kemampuan berbicara dan menyimak kedua-duanya dilatihkan.
7.Guru dan siswa sama-sama aktif, tapi guru berperan memberikan
stimulus berupa contoh ucapan, peragaan, dan pertanyaan, sedangkan siswa hanya
merespon dalam bentuk menirukan menjawab pertanyaan, memeragakan, dsb.
8.Ketepatan pelafalan dan tata bahasa ditekankan.
9.BT digunakan sebagai bahasa pengantar secara ketat, dan penggunaan
bahasa ibu pelajar dianggap sebagai pelanggaran.
10.Kelas diciptakan sebagai lingkungan BT buatan atau menyerupai
“kolam bahasa”, tempat siswa berlatih BT secara langsung.
4.Kelebihan dan kelemahan
Kelebihan
1.Pelajar terampil menyimak dan berbicara.
2.Pelajar menguasai pelafalan dengan baik seperti atau mendekati
penutur asli.
3.Pelajar mengetahui banyak kosakota dan pemakaiannya dalam kalimat.
4.Pelajar memiliki keberanian dan spontanitas dalam berkomunikasi
karena dilatih berfikir dalam BT sehingga tidak terhambat oleh proses
penerjemahan.
5.Pelajar menguasai tata bahasa secara fungsional tidak sekedar
teoritis, artinya berfungsi untuk mengontrol kebenaran ujarannya.
Kelemahan
1.Pelajar
lemah dalam kemampuan membaca pemahaman karena materi dan latihan ditekankan
pada bahasa lisan.
2.Memerlukan
guru yang ideal dari segi keterampilan berbahasa dan kelincahan dalam penyajian
pelajaran.
3.Tidak
bisa dilaksanakan dalam kelas besat.
4.Tidak
diperbolehkannya pemakaian bahasa ibu pelajar bisa berakibat terbuangnya waktu
untuk menjelaskan makna satu kata abstrak, dan terjadinya kesalahan persepsi
atau penafsiran pada siswa.
5.Model
latihan menirukan dan menghafalkan kalimat-kalimat yang kadang kala tidak
realistis karena tidak kontekstual, bisa membosankan bagi oarang dewasa.
6.Metode
ini juga dikritik oleh para ahli dari segi kelemahan dasar teoritisnya, yang
menyamakan pemerolehan bahasa pertama dengan bahasa kedua/asing.