Follow Us @soratemplates

Senin, 23 November 2015

METODE LANGSUNG

     METODE LANGSUNG (الطريقة المباشرة) (menurut Ahmad Fuad Effendy, 2012:47):

1.      Latar belakang
Metode ini muncul akibat ketidakpuasaan terhadap hasil pengajarn bahasa dengan metode gramatika terjemah dikaitkan dengan tuntutan kebutuhan nyata di masyakarat. Menjelang pertengahan abad ke-19, hubungan antar negara di Eropa mulai terbuka sehingga menyebabkan adanya kebutuhan untuk bisa saling berkomunikasi aktif di antara mereka. Untuk itu mereka membutuhkan cara baru belajar bahasa kedua, karena metode yang ada dirasa tidak praktis dan tidak efektif. Maka pendekatan-pendekatan baru mulai dicetuskan oleh para ahli bahasa di Jerman, Inggris, Prancis, dan lain-lain, yang membuka jalan bagi lahirnya metode baru yang disebut Metode Langsung. Di antara para ahli itu adalah Francois Gouin (1880-1992) seorang guru bahasa latin dari Prancis yang mengembangkan metode berdasarkan pengamatannya pada pengguanan bahasa ibu oleh anak-anak. Metode ini memperoleh popularitas pada awal abad ke-20 di Eropa dan Amerika. Pada waktu yang sama, metode ini juga digunakan untuk pengajaran bahasa Arab, baik di negeri Arab maupun di negeri-negeri Islam di Asia termasuk Indonesia.

2.      Asumsi
Metode ini dikembangkan atas dasar asumsi bahwa proses belajar bahasa kedua atau bahasa asing sama dengan belajar bahasa ibu. Juga didasarkan atas asumsi yang bersumber dari hasil-hasil kajian psikologi asosiatif. Berdasarkan kedua asumsi tersebut, pengajaran bahasa khususnya pengajaran kata dan kalimat harus dihubungkan langsung dengan benda, sampel atau gambarnya, atau melalui peragaan, permainan peran, dan lain sebagainya. Dalam metode ini, pembelajar harus dibiasakan berpikir dalam bahasa target, oleh karena itu penggunaan bahasa ibu pembelajar dihindari sama sekali.

3.      Karakteristik
Karakteristik metode langsung ini antara lain adalah sebagai berikut:
1.      Tujuan utamanya ialah penguasaan bahasa target (BT) secara lisan agar pelajar bisa berkomunikasi dalam BT.
2.      Materi pelajaran berupa: buku teks yang berisi daftar kosakata dan penggunaanya dalam kalimat. Kosakata itu umumnya konkrit dan ada di lingkungan siswa.
3.      Kaidah-kaidah bahasa diajarkan secara induktif, yaitu berangkat dari contoh-contoh kemudian diambil kesimpulan.
4.      Kata-kata konkrit diajarkan melalui demonstrasi, peragaan, benda langsung, dan gambar, sedangkan kata-kata abstrak melalui asosiasi, konteks, dan definisi.
5.      Kemampuan komunikasi lisan dilatihkan secara cepat melalui tanya jawab yang terencana dalam pola interaksi yang bervariasi.
6.      Kemampuan berbicara dan menyimak kedua-duanya dilatihkan.
7.      Guru dan siswa sama-sama aktif, tapi guru berperan memberikan stimulus berupa contoh ucapan, peragaan, dan pertanyaan, sedangkan siswa hanya merespon dalam bentuk menirukan menjawab pertanyaan, memeragakan, dsb.
8.      Ketepatan pelafalan dan tata bahasa ditekankan.
9.      BT digunakan sebagai bahasa pengantar secara ketat, dan penggunaan bahasa ibu pelajar dianggap sebagai pelanggaran.
10.  Kelas diciptakan sebagai lingkungan BT buatan atau menyerupai “kolam bahasa”, tempat siswa berlatih BT secara langsung.

4.      Kelebihan dan kelemahan
Kelebihan
1.      Pelajar terampil menyimak dan berbicara.
2.      Pelajar menguasai pelafalan dengan baik seperti atau mendekati penutur asli.
3.      Pelajar mengetahui banyak kosakota dan pemakaiannya dalam kalimat.
4.      Pelajar memiliki keberanian dan spontanitas dalam berkomunikasi karena dilatih berfikir dalam BT sehingga tidak terhambat oleh proses penerjemahan.
5.      Pelajar menguasai tata bahasa secara fungsional tidak sekedar teoritis, artinya berfungsi untuk mengontrol kebenaran ujarannya.
Kelemahan
1.      Pelajar lemah dalam kemampuan membaca pemahaman karena materi dan latihan ditekankan pada bahasa lisan.
2.      Memerlukan guru yang ideal dari segi keterampilan berbahasa dan kelincahan dalam penyajian pelajaran.
3.      Tidak bisa dilaksanakan dalam kelas besat.
4.      Tidak diperbolehkannya pemakaian bahasa ibu pelajar bisa berakibat terbuangnya waktu untuk menjelaskan makna satu kata abstrak, dan terjadinya kesalahan persepsi atau penafsiran pada siswa.
5.      Model latihan menirukan dan menghafalkan kalimat-kalimat yang kadang kala tidak realistis karena tidak kontekstual, bisa membosankan bagi oarang dewasa.
6.      Metode ini juga dikritik oleh para ahli dari segi kelemahan dasar teoritisnya, yang menyamakan pemerolehan bahasa pertama dengan bahasa kedua/asing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar